Trending

LAYANAN KAMPANYE

Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Januari 2014

Kesenian Mendu Ditetapkan Jadi Warisan Budaya

SIRIH BESAR, Natuna - Kabupaten Natuna berhasil memperjuangakan kesenian Mendu yang berasal dari wilayah Bunguran ditetapkan sebagai warisan budaya Indonesia yang tak berupa benda.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Prof Kacung Marijan menyatakan saat ini ada sebanyak 2.632 warisan budaya tidak benda yang terdaftar. Selanjutnya mulai tahun ini dibentuk tim untuk melihat kembali 2632 warisan budaya satu per satu untuk ditetapkan.

“Pada tahun ini ada 66 warisan budaya tidak benda yang ditetapkan termasuk seni Mendu,” sebutnya saat revitalisasi dan ekspresi budaya tradisional seni tradisi mendu dan cerita rakyat di Lapangan Pamedan, Jumat malam,18 Oktober 2013.

Diharapkan Kacung, warisan budaya Indonesia terlindungi, dimanfaatkan dan dilestarikan. Oleh karena itu, seni Mendu tidak hanya dikembangkan dan dimainkan oleh generasi yang tua saja, melainkan generasi muda.

Untuk pelestarian seni tradisional ditemui kendala diantaranya perubahan zaman diiringi selera yang berubah. Sehingga tidak selalu generasi muda satu selera dengan yang tua. Oleh karena itu harus ada pengembangan, variasi dan bernilai ekonomis. Mengingat dalam seni Mendu terkandung seni tari, vokal serta seni musik.

“Diharapkan pemerintah daerah segera menggelar festival seni Mendu tingkat pelajar di Sekolah. Kalau tidak tahun ini atau tahun depan. Contohnya saat perayaan 17 Agustus. Dengan memperebutkan piala walikota,” harapnya.

Menurutnya, untuk mendaftarkan warisan budaya dapat diakses melalui internet. Sehingga tidak perlu repot lagi.

Menurut Walikota Lis Darmansyah seni Mendu merupakan khas melayu yang telah ada sejak zaman dahulu hingga sekarang. Kesenian ini berasal dari Bunguran Natuna. Dimana masyarakat Natuna dan Anambas saat ini sebagai pusat kesenian Mendu. Mereka sebagian besar berada di Kota Tanjungpinang. (kepribangkit)

Tanjung Pinang, Wisata Budaya Melayu

Pantai Lagoi, Bintan
SIRIH BESAR, Bintan - Tanjungpinang terletak di Pulau Bintan dan menjadi ibukota provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Provinsi muda ini lahir dari pemekaran provinsi Riau sejak era otonomi daerah bergulir di Indonesia. Sama seperti halnya tempat wisata di daratan Riau. Tempat wisata di Kepulauan Riau didominasi oleh kebudayaan Melayu. Budaya Melayu memberi ciri khusus pada setiap tempat wisata di Tanjung Pinang.

Tanjung Pinang merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Melayu pada masa dulu. Oleh karena itu, budaya Melayu benar-benar mendarah daging bagi warga setempat. Selain Tanjung Pinang, provinsi Kepri memiliki Kota Batam yang lebih terkenal sebagai tempat wisata belanja barang-barang bermerek dengan harga terjangkau. Popularitas Batam disamakan dengan Singapura sebagai surga wisata belanja di kawasan Asia, selain Hongkong, Kuala Lumpur, Tokyo, Beijing, dan Makau.

Kelestarian Budaya Melayu di Pulau Bintan
Hal unik yang membedakan tempat wisata di Tanjung Pinang dengan Batam adalah keaslian budaya Melayu yang tampak pada kehidupan masyarakat setempat. Batam dinilai banyak wisatawan sudah terlalu modern dan meninggalkan budaya asli Melayu. Sementara di Tanjung Pinang (Pulau Bintan pada umumnya) masih memegang teguh adat tradisi Melayu. Hal ini bisa kita perhatikan dari cara masyarakat setempat berbicara, berpakaian, seni arsitektur rumah, wisata kuliner, dan lain-lain.

Untuk mencapai tempat wisata di Tanjung Pinang, mula-mula wisatawan menggunakan mode transportasi udara dengan tujuan Bandara Kijang yang terletak tak jauh dari pusat Kota Tanjung Pinang. Setelah itu wisatawan bisa memilih menjelajahi obyek wisata di Pulau Bintan dengan naik kendaraan umum, maupun perahu pompong. Pulau Bintan yang kecil, kurang lebih seukuran dengan luas Kota Jakarta, bisa dengan mudah wisatawan telusuri setiap jengkalnya.

Daya tarik tempat wisata di Tanjung Pinang dihasilkan oleh perpaduan wisata budaya, wisata religi, wisata bahari, wisata historis, dan tentu saja wisata kuliner. Kota Tanjung Pinang tidak terlalu besar. Wisatawan bisa menjelajahi obyek wisata di Tanjung Pinang dengan jalan kaki dari satu gang ke gang lainnya. Kalaupun terpaksa harus naik ojek, tarif transportasi darat tersebut relatif murah. Berikut ini ulasan singkat sejumlah tempat wisata di Tanjung Pinang.

Museum Sultan Badrul Alamsyah Dan Museum Kandil
Museum Sultan Badrul Alamsyah terletak di pusat Kota Tanjung Pinang. Tempat wisata bersejarah ini menyimpan koleksi benda-benda bersejarah yang berhubungan dengan Kerajaan Melayu hingga masa pendudukan Belanda di Indonesia. Budaya Melayu yang ada di Malaysia dan Singapura diyakini berasal dari wilayah Tanjung Pinang, Indonesia.

Secara umum, Museum Kandil memiliki ikatan sejarah dengan Museum Sultan Badrul Alamsyah, yaitu memajang peninggalan kerajaan Melayu. Hanya saja museum ini terletak di daerah pinggiran kota sehingga tidak banyak wisatawan yang mengetahui keberadaannya. Kedua museum ini turut memberi informasi bagi penggunaan bahasa Melayu sebagai asal keberadaan Bahasa Indonesia.

Menguak Sejarah Melayu di Pulau Penyengat
Dari Pulau Bintan, travelling lanjut ke Pulau Penyengat. Liburan ke Pulau Penyengat dimulai dengan naik perahu pompong dari dermaga Tanjung Pinang. Ongkos menyeberang pulau hanya lima ribu rupiah. Dengan biaya transportasi murah, wisatawan bisa menikmati keindahan wisata alam Pulau Penyengat. Jangan lupa membawa kamera untuk mengabadikan moment berharga ini ke dalam gambar tempat wisata.

Daya tarik tempat wisata di Pulau Penyengat bukan hanya keindahan alam, Pulau Penyengat juga memiliki sejumah tempat wisata bersejarah di Indonesia. Para turis bisa mengunjungi Masjid Sultan Riau, Makam Raja Ali Haji, Perigi Putri, Balai Adat, makam anggota Kerajaan Melayu, Benteng Bukit Kursi, dan lain-lain. Semua tempat tersebut menjadi tempat wisata sejarah yang akan mengajarkan kita untuk menghargai arti penting budaya masa lalu di Nusantara.

Kampung Adat China di Pulau Senggarang
Budaya yang berkembang di provinsi Kepulauan Riau bukan hanya budaya Melayu. Walaupun termasuk warga minoritas, etnis China memberi warna tersendiri bagi daya tarik tempat wisata di provinsi Kepri. Salah satunya adalah Pulau Senggarang yang menjadi perkampungan adat China sejak beratus-ratus tahun lamanya. Untuk mencapai Senggarang, wisatawan berangkat dari dermaga Pelantar 1 di Pulau Bintan dengan membayar ongkos sebesar tiga ribu rupiah.

Senggarang memiliki keunikan wisata budaya Tiongkok yang kuat. Disana wisatawan bisa menemukan sejumlah kelenteng dan wihara berumur tua. Salah satu kelenteng tua disana adalah kelenteng Tien Shang Miao. Bangunan kelenteng berusia ratusan tahun ini terlilit akar pohon beringin, sehingga disebut juga sebagai Banyan Tree Temple. Keunikan wihara di Pulau Senggarang tidak kalah menarik dibanding Puri Ubud di Bali, Masjid Muhammad Cheng Ho di Pandaan, maupun Candi Borobudur di Magelang.

Selain beberapa obyek wisata di atas, tempat wisata di sekitar Pulau Bintan yang menarik untuk dikunjungi adalah Kampung Bugis, Sungai Ular, Wihara Ksitigarbha Bodhisattva, Wihara Avalokitesvara, pasar baju di sekitar Hotel Tanjung Pinang, aneka kedai kopi Melayu (kopitiam), dan lain-lain. Sungguh alam Pulau Bintan sangat kaya dengan budaya dan keindahan yang tak terkira. Sudah selayaknya kita lestarikan budaya Melayu sebagai bagian budaya Nusantara. Jangan sampai negara tetangga lebih peduli terhadap keberadaan budaya asli Indonesia.

Ayo berlibur ke tempat wisata di Tanjung Pinang!

sumber : tempat wisata.web.id

Tentang Kota Tanjungpinang

SIRIH Besar, Tanjungpinang - Tanjungpinang atau sebelumnya disebut Tanjung Pinang (disingkat Tg. Pinang) adalah ibu kota dari Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia. Yang terletak di koordinat 0º5' Lintang Utara dan 104º27' Bujur Timur, tepatnya di Pulau Bintan.


Kota ini memiliki cukup banyak daerah parawisata seperti Pulau Penyengat yang hanya berjarak kurang lebih 2 mil dari pelabuhan laut Tanjungpinang - Pelabuhan Sri Bintan Pura, Pantai Trikora dengan pasir putihnya terletak kurang lebih 65 km dari kota, dan pantai buatan yang terletak di garis pantai pusat kota sebagai pemanis atau wajah kota (waterfront city).

Pelabuhan Laut Tanjungpinang - Pelabuhan Sri Bintan Pura memiliki kapal-kapal jenis feri dan feri cepat (speedboat) untuk akses domestik ke pulau Batam dan pulau-pulau lain seperti; kepulauan Karimun dan Kundur, serta kota-kota lain di Riau daratan, juga merupakan akses internasional ke negara Malaysia dan Singapura.

Sejarah
Berdasarkan Sulalatus Salatin, kawasan kota ini merupakan bagian dari Kerajaan Melayu, setelah jatuhnya Malaka ke tangan Portugal, Sultan Mahmud Syah menjadikan kawasan ini sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Malaka. Kemudian menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Johor, sebelum diambil alih oleh Belanda terutama setelah Belanda menundukan perlawanan Raja Haji Fisabilillah tahun 1784 di Pulau Penyengat.

Pada masa kolonial Belanda, Tanjungpinang ditingkatkan statusnya menjadi pusat pemerintahan dari Residentie Riouw pemerintah Hindia-Belanda. Kemudian di awal kemerdekaan Indonesia, menjadi ibu kota Kabupaten Kepulauan Riau. Setelah menjadi Kota Administratif - Kabupaten Kepulauan Riau hingga tahun 2000, berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 2001, pada tanggal 21 Juni 2001, statusnya menjadi Kota Tanjungpinang. Pusat pemerintahan yang semula berada di pusat Kota Tanjungpinang di pemukiman padat penduduk kemudian dipindahkan ke Senggarang (bagian utara kota) sebagai pusat pemerintahan. Hal ini ditujukan untuk mengimbangi kesenjangan pembangunan dan kepadatan penduduk yang selama ini berpusat di kota lama (bagian barat kota).

Geografi
Sebagian wilayah Tanjungpinang merupakan dataran rendah kawasan rawa bakau dan sebagian lain merupakan perbukitan sehingga lahan kota sangat berfariasi dan berkontur.

Iklim
Kota Tanjungpinang' maupun Pulau Bintan keseluruhan beriklim tropis dengan temperatur 23 °C – 34 °C. Tekanan udaranya berkisar antara 1.010,2 mbs dan 1.013,7 mbs.

Kependudukan
Suku Melayu merupakan kelompok etnik yang dominan di kota ini, selain itu terdapat juga etnik Tionghoa, Jawa, Minang, Bugis dan Batak. Sementara bahasa yang digunakan umumnya Bahasa Melayu selain dari pada Bahasa Indonesia. Selain itu Bahasa Tiochiu juga masih digunakan oleh komunitas masyarakat tertentu di Kota Tanjungpinang.

Perhubungan
Kota Tanjungpinang terdapat Pelabuhan Domestik dan Internasional yaitu Pelabuhan Sri Bintan Pura, serta Bandara Internasional, Bandar Udara Internasional Raja Haji Fisabilillah.

Perekonomian
Pada tahun 2001, sektor perdagangan, hotel, dan restoran memberikan kontribusi yang cukup signifikan dalam membangun perekonomian Kota Tanjungpinang yaitu sebesar 35,54% kemudian diikuti oleh sektor industri pengolahan 15,37%, sektor bangunan 13,29%, sektor jasa-jasa 12,51%, dan sektor pengangkutan dan komunikasi 10,82%. Sedangkan sektor lainnya meliputi sektor listrik, gas, dan air bersih, keuangan, pertanian, dan sektor pertambangan dan penggalian sebesar 12,47%.

Pariwisata
Pulau Penyengat merupakan salah satu kawasan wisata di Kota Tanjungpinang. Pulau seluas 3,5 km² ini berada di sebelah barat Kota Tanjungpinang dan dapat ditempuh 15 menit dengan transportasi laut. Pada pulau ini terdapat banyak peninggalan lama dengan wujud bangunan dan makam yang telah dijadikan situs cagar budaya. Selain itu juga dijumpai kelenteng atau vihara di kawasan Kampung Bugis yang sekaligus menjadi kawasan wisata religi.

Pariwisata di kota Tanjungpinang ditunjang oleh adanya 13 hotel bintang, 43 hotel non bintang, 34 rumah makan dan pusat-pusat belanja yang terdiri dari 13 supermarket serta pertokoan yang tersebar di wilayah kota. Sementara jumlah kunjungan wisatawan didominasi dari negara Singapura, Malaysia dan Belanda. Kota ini juga menawarkan sajian kuliner aneka hidangan laut, dan masakan Cina.

Kabupaten dan Kota di Provinsi Kepulauan Riau

No.
Kode
Kabupaten/Kota
Luas Wilayah (km2)
Persentase thdp Luas Provinsi (%)
Daftar Kabupaten dan Kota di Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2010
1
2101
Kabupaten Karimun
912.75
11.13
2
2102
Kabupaten Bintan
1,318.21
16.07
3
2103
Kabupaten Natuna
2,009.04
24.50
4
2104
Kabupaten Lingga
2,266.77
27.64
5
2105
Kabupaten Anambas
590.14
7.20
6
2171
Kota Batam
960.25
11.71
7
2172
Kota Tanjung Pinang
144.56
1.76
 
2100
Provinsi Kepulauan Riau
8,201.72
100.00
sumber indoneisdata.co.id

Sumber: Wikipedia
Designed By Blogger Templates - Published By Gooyaabi Templates | Powered By Blogger